Dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sudah merembet ke bisnis smartphone, yaitu Huawei. Sebagaimana kita ketahui, Huawei saat ini sedang bermasalah dengan AS terkait isu keamanan pada perangkatnya.

Disamping isu tersebut, Huawei kini juga diboikot oleh Android, sistem operasi dasar yang dibenamkan di produk-produk smartphone-nya. Android sendiri dibuat oleh Google yang bermarkas di AS. Boikot dari Android maksudnya semua perangkat Huawei tidak boleh menggunakan OS tersebut. Boikot dari Android ini termasuk akses ke layanan Google.

Sejauh ini belum ada informasi kapan kebijakan itu mulai berlaku. Yang jelas dalam waktu dekat. Informasi boikot oleh Google ini lantas mengundang pertanyaan, bagaimana nasib perangkat yang sudah di tangan konsumen?

Satu sumber mengatakan perangkat lama yang sudah berada di tangan konsumen aman. Kemungkinan OS Android tetap terpasang namun update/pembaruan OS praktis akan dihentikan.

Sumber lain mengatakan bahwa Huawei diberi waktu hingga 90 hari atau pertengahan Agustus 2019 untuk proses migrasi ke OS lain. Artinya, konsumen Huawei lama mau tidak mau harus migrasi ke OS lain. Tetapi bila harus migrasi, sejauh ini belum ada informasi Huawei akan menggunakan OS apa. OS buatan Huawei hingga saat ini juga jauh dari siap sebagaimana informasi dari CNET.com.

Boikot Huawei di AS oleh karena kebijakan pemerintah AS menimbulkan kompetisi tidak seimbang di ranah smartphone, yaitu kompetisi antara Huawei dan iPhone. Di satu sisi, Huawei tidak bisa masuk ke AS, negara asal iPhone. Di sisi lainnya, Huawei justru berkompetisi head to head dengan iPhone di negerinya sendiri.

Padahal Huawei baru saja merilis dua smartphone canggih P30 Pro dan Mate 20 Pro yang sayangnya tidak bisa dilempar ke pasar AS. Huawei juga sedang bersiap merilis generasi penerusnya, Mate 30 dan Mate 30 Pro yang juga kemungkinan besar tidak akan beredar di AS. Nasib serupa mungkin juga bakal menimpa produk ponsel lipatnya, Huawei Mate X, yang sebenarnya terbilang canggih dan bagus dari sisi desain.

Namun, boikot terhadap Huawei di AS nampaknya meningkatkan sentimen nasionalisme yang nampaknya akan berpengaruh pada peningkatan penjualan perangkat Huawei.

Sebagai informasi, bila melihat data pada tahun 2018 lalu penjualan perangkat Huawei di China saja mencapai 105 juta unit, meraup pangsa pasar sekira 26 persen. Sementara pangsa pasar Apple di China hanya sekira 8 hingga 15 persen saja sejak kuartal pertama tahun 2016 hingga kuartal keempat 2018. (Sumber)

Dengan angka penjualan tersebut, saat ini Huawei adalah merek smartphone terbesar di daratan China. Dari sisi pangsa pasar, Huawei (termasuk Honor) masih lebih unggul daripada brand China lainnya yaitu Oppo, Vivo, Xiaomi dan Meizu.

Terlepas dari perseteruan bisnis antara Apple versus Huawei, ada beberapa cerita menarik. Siapa mengira dua karyawan Huawei harus menanggung akibatnya. Ceritanya, dua orang staf Huawei kedapatan mengirim cuitan Tahun Baru 2019 di Twitter dengan menggunakan akun perusahaan dengan menggunakan perangkat iPhone. Waduh.. Sebagai konsekuensinya, kabarnya gaji mereka dipotong.

Cerita serupa terjadi baru-baru ini. Pada 20 Mei 2019 lalu, seorang diplomat China mencuit tentang boikot yang dialami Huawei oleh AS. Terjemahan cuitannnya kurang lebih sebagai berikut: “Baru saja terungkap mengapa Trump sangat membenci perusahaan swasta dari China sehingga sejauh ini mengumumkan keadaan darurat nasional. Lihatlah logo Huawei. Logo itu memotong APPLE (buah apel) menjadi potongan-potongan… ” (sumber)

Cuitan itu disertai tiga gambar yaitu logo Apple, logo Huawei dan foto buah apel merah yang dipotong-potong yang bentuknya mirip dengan logo Huawei. Cuitan tersebut sejauh ini sudah dicuit ulang sebanyak 2.400an kali dan mendapat 5.700 likes.

Lucunya, diplomat tersebut ternyata mencuit dengan menggunakan iPhone-nya. Hal ini diketahui dari tweetdeck-nya yang memuat nama perangkat yang ia gunakan. Salah seorang pengikutnya mengunggah cuitannya lengkap dengan informasi tweetdeck-nya. 

Sementara itu, kini juga ada fenomena menarik dimana sebagian konsumen merasa malu bila menggunakan iPhone. Mereka kini mulai beralih menggunakan perangkat lain produksi negeri China yang memiliki ikatan dengan Huawei.

Ada pengguna iPhone yang beralih menggunakan Huawei dengan alasan mendukung Huawei. Ia tidak jadi membeli Apple Watch dan akan membeli produk Huawei saja. Lainnya, ada seorang pekerja yang mengganti perangkat iPhone-nya dengan Huawei hanya karena merasa tidak enak dengan eksekutif perusahaan tempat ia bekerja yang menggunakan Huawei.

Baru-baru ini tersiar luas sebuah kabar bahwa pemilik Huawei, Ren Zhengfei ternyata adalah fans Apple. Ia kagum dengan ekosistem iPhone yang bagus. Ketika anggota keluarganya pergi ke luar negeri, ia membelikan mereka perangkat iPhone.

Nah, Huawei nampaknya ingin memiliki ekosistem yang sama seperti iPhone. Baru-baru ini CNET.com menginformasikan bahwa Huawei kini sedang menggarap sebuah layanan app store untuk melawan Google Play Store. Kabarnya, di tahun 2018, Huawei telah meminta para pengembang aplikasi untuk membangun software untuk app store. Selain itu, Huawei sejak tahun 2012 sedang menyiapkan OS-nya sendiri, walaupun saat ini progress-nya masih jauh dari siap.

Tetapi apabila OS dan app store Huawei bisa terwujud, maka Huawei bisa menjadi kompetitor terbesar iPhone. Sebab sejauh ini belum ada brand yang memiliki ekosistem sendiri selain iPhone/Apple. Apple memproduksi sendiri perangkat iPhone sekaligus membenamkan OS-nya sendiri, iOS, ke perangkatnya, serta memiliki app store sendiri. Bisa saja boikot AS menjadi hikmah bagi Huawei.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here